PJJ Ruh KBM di Masa Pandemik

Tanpa terasa sudah hampir satu tahun kita melaksanakan pembejaran jarak jauh (PJJ) secara daring. Di antara  kita tidak ada yang tahu secara persis kapan model pembelajran ini akan berakhir. Yang jelas selagi  pandemik covid-19 yang tersebabkan oleh makhluk tak kasat mata masih melanda negeri tercinta, model pembelajaran ini akan tetap dilaksanakan.

Dunia pendidikan sebagai salah satu sektor pelaksana dan pencetak generasi yang handal, mumpuni dalam segi akademis dan nonakademis, tidak boleh berhenti. Semua cakupan materi yang telah termaktup dalam kurikulum harus tetap tersampaikan kepada siswa dalam semua jenjang. Program-program pendidikan harus tetap berjalan sesuai dengan target yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Oleh karena itu, pembelajaran jarak jauh secara daring dilaksanakan untuk semua jenjang mulai dari PAUD sampai perguruan tinggi.

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring bisa dilaksanakan dengan belajar dari rumah (BDR), melihat tayangan di TVRI, mendengarkan siaran radio pendidikan (Rasika FM, dan Suara Serasi untuk wilayah Kabupaten Semarang), bisa juga dengan melalui aplikasi yang ada di android misalnya zoom, google form, google classroom, quizziz, dan google meet. Pelaksaan PJJ secara daring tidak terlepas dari adanya jaringan internet dan kuota. Oleh karena itu, untuk menunjang kelancaran pelaksanan pembelajaran jarak jauh ini, pemerintah melalui Kemendikbud telah memberikan bantuan kuota. Bantuan ini diberikan kepada  seluruh pelajar mulai dari jenjang paling bawah sampai dengan perguruan tinggi, dan tenaga pendidik.

Pelaksaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring yang dilaksanakan dari rumah merupakan pilihan tepat untuk tetap berlangsungnya proses pembelajaran di dunia pendidikan. Sehingga secara kasat mata hampir satu tahun ini kita jarang menemukan anak berseragam sekolah berbondong-bondong dengan tas di punggung yang memenuhi lokasi sekolah. Jarang kita temukan kelas yang semua meja kursinnya penuh dengan siswa. Sekolah jadi sepi. Gedung sekolah seolah merana. Yang terjadi sekarang adalah, kegiatan belajar pindah ke rumah. Rumah bertambah fungsinya sebagai sekolah bagi anggota keluarga. Setiap rumah menjadi sekolah.

Dalam kondisi seperti ini, sekolah utamanya guru seolah menjadi operator yang menggerakkan setiap siswa untuk tetap belajar meskipun di rumah. Sebagai operator, banyak aplikasi yang bisa diterapkan untuk menyampaikan materi pembelajaran, dan mengevaluasi hasil pembelajaran seperti aplikasi whatsApp, google form, google classroom, dan Qizzizz. Sementara untuk prosesnya tentu perlu partisipasi aktif orang tua. Pelibatan orang tua ini sangat penting untuk menumbuhkan sinergitas antara sekolah utamanya guru dengan orang tua. Dengan sinergitas yang positif harapannya tujuan program sekolah dan tujuan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran bisa terwujudkan.

Bentuk partisipasi orang tua sebagai wujud sinergitas ini ada bermasac-macam, misalnya mengingatkan anak untuk tetap belajar, mendampingi anak saat belajar, menumbuhkan kondisivitas, memberikan fasilitas, dan yang tidak kalah pentingnya adalah mendukung sepenuhnya program pemerintah untuk tetap berlangsungnya pendidikan.

Kita tidak bisa membayangkan seandanya pemerintah tidak bijak dalam menyikapi kondisi pandemik ini. Pemerintah pobia terhadap terus melonjaknya kasus covid-19. Tentu secara kualitas dunia pendidikan kita akan semakin tertinggal jauh dengan negara-negara lain. Yang lebih parah tentu saja para siswa yang akan menjadi korban. Mereka menjadi kehilangan arah, dan mengalami berbagai gangguan, serta semakin tidak berkualitas. Oleh karena itu, meski secara konten muatan kurikulum dikurangi, harapannya tidak akan membuat kualitas pendidikan di negara tercinta mengalami perubahan. Guru bisa menyampaikan semua materi yang ditetapkan sesuai dengan waktu dan program yang telah direncanakan. Pandemik covid-19 bukan menjadi hambatan dan penghalang untuk tetap memajukan pendidikan dan melaksanakan kewajiban untuk mencerdaskan anak bangsa.

Dalam pelaksaan pembelajaran jarak jauh untuk setiap satuan pendidikan tentu tidak akan sama, baik aplikasi yang digunakan maupun respon dari para siswa. Semuanya ini tergantung pada situasi, kondisi, fasilitas, dan kondisi geografis. Siswa yang tinggal di kota, dengan berbagai fasilitas yang tersedia dan dukungan penuh untuk semua sarana dan prasarana, pelaksanaan PJJ secara daring tentu bukan hal yang sulit. Siswa lebih antusias dan keinginan untuk mencapai kualitas hasil yang maksimal sudah tertanam. Mereka sudah paham betul kapan, di mana, dan dengan siapa mereka harus berinteraksi, apa yang perlu dilakukan, serta bagaimana cara melakukannya. Guru secara aktif bisa melakukan komunikasi dua arah, bisa menyampaikan materi dan mengevaluasi  secara lancar dan berkesinambungan tak ubahnya seperti pembelajaran tatap muka (PTM). Sebaliknya untuk siswa yang tinggal di desa atau daerah pinggiran, dalam pelaksanaannya tentu tidak akan semulus dengan pelaksanaan PJJ di kota.

Kondisi seperti itu  yang terjadi  di sekolah tempat kami mengabdi. Banyak kendala yang kami hadapi saat pembelajaran dilakukan secara daring. Secara geografis, letak sekolah di daerah pegunungan atau dataran tinggi, dan jauh dari perkotaan alias di pedesaan. Begitu pula asal para siswa,  sesuai dengan program zonasi yang diterapkan oleh Kemendikbud. Dengan kondisi seperti ini, satuan pendidikan kemudian menyikapi pola PJJ yang dilakukan.

Secara umum sekolah mengimbau kepada guru untuk memilih pola PJJ yang memang bisa dilaksanakan dan bisa diikuti oleh semua siswa. Yang jelas dengan kondisi yang serba terbatas, pembelajaran harus tetap berjalan, ilmu dan materi pembelajaran harus sampai kepada siswa.

Menyikapi kebijakan satuan pendidikan/sekolah dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ), urusan kurikulum kemudian membuat grup whatsApp untuk setiap kelas. Anggota grup ini terdiri atas siswa dan guru yang mengajar di kelas tersebut. Grup kelas ini berfungsi sebagai sarana komunikasi dan penyampai informasi antara guru dan siswa. Melalui grup ini guru bisa memberikan tugas melalui aplikasi misalnya google form, google classroom, atau Quizizz. Memang tidak banyak aplikasi yang dapat kami gunakan. Hal ini sejalan dengan kondisi geografis yaitu jaringan yang sering kurang lancar. Di samping itu juga kendala gawai. Kapasitas atau ram gawai yang berbeda-beda, sehingga kadang hanya bisa untuk WA saja. Selain itu, belum semua siswa memiliki gawai. Ada siswa yang di rumahnya hanya memiliki satu gawai dan digunakan untuk satu keluarga. Untuk menyikapi permasalahan ini, sekolah melalui program koin peduli membeli gawai kemudian dipinjamkan kepada siswa. Ini pun masih terbatas.

Seiring berjalannya waktu, banyak hal yang kami alami dan rasakan. Hal ini  berkaitan dengan tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Banyak siswa yang tidak tertib dalam mengunpulkan tugas. Ada-ada saja alasan mereka. Sebetulnya permasalahan ini sudah kami duga sebelumnya. Berdasarkan pengalaman dan kenyataan yang ada, dalam pembelajaran tatap muka  siswa harus selalu diingatkan jika ada tugas. Dalam kondisi tatap muka atau berhadapan langsung saja tidak sedikit yang menunda dalam pengumpulan tugas. Nah, mengejar tugas di dunia nyata saja sulit, apalagi di dunia maya. Waduuuh.

Hal ini terbukti dari persentase jumlah pengumpul tugas. Jika dihitung untuk semua mata pelajaran tidak lebih dari 60%. Kondisi ini tentu membuat kami, guru merasa prihatin, dan mengalami banyak kendala. Untuk  menggugah semangat, menegakkan kedisiplinan, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab, kami gunakan pendekatan secara berjenjang. Awalnya untuk siswa yang belum memenuhi kewajibannya kami ingatkan dengan cara mengirimkan pesan atau menelepon. Cara berikutnya, menagih saat siswa mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM/luring). Jika cara ini tidak berhasil, kami minta pendapat dan membuat kesepakan kepada siswa tentang tindakan yang bisa dilakukan apabila ada siswa yang memiliki perilaku menyimpang. Namun, fakta yang kami hadapi masih banyak siswa yang masih tidak konsisten dengan kesepakatan yang telah dibuat. Masih banyak alasan yang mereka sampaikan, misalnya masih mengerjakan tugas dari mata pelajaran  yang lain, lupa mengumpulkan, sementara masih di rumah nenek, tidak ada di rumah.  Ada juga yang mengatakan bahwa belum sempat mengerjakan karena harus membantu orang tua ke ladang, gawai masih digunakan oleh kakak atau adik, atau disuruh menjaga adik. Untuk tugas yang lewat tautan,  alasan yang paling dominan yaitu tentang kendala jaringan, dan kuota.

“Maaf, Bu. Tugasnya apa,ya?” ini merupakan pertanyaan  dan alasan menghindar yang paling ekstrem. Diminta mengirimkan tugas, malah balik bertanya tugasnya apa. Pertanyaan ini selalu membuat kami  geregetan, dan jengkel. Kami  langsung merespon lewat grup. Nah, kalau begini biasanya mereka langsung slenco (berbicara menyimpang dari pokok pembicaraan). Saya langsung memberikan nasihat kepada siswa  yang “pelupaini untuk tertib dan lebih cermat dalam membaca pesan yang dikirimkan lewat whasApp grup.

“Yah, tugas yang satu belum selesai, sudah datang tugas yang lain,” respons siswa  lagi jika ada tugas yang dibagikan oleh guru.

“Jangan banyak-banyak, Buk, tugasnya, soalnya semua guru juga memberi tugas.” Tulis peserta didik yang lain.

“Anak-anak yang hebat, nyuwun tulung, mohon dipahami dan dimengerti. Sekarang ini kegiatan kalian adalah belajar di rumah bukan libur. Jadi, mohon bisa mengelola dan memanfaatkan waktu dengan baik. Ketika ada tugas, segera disikapi dan dikerjakan. Kalian merasa keberatan karena mungkin ketika Bapak atau Ibu Guru memberikan tugas, hanya kalian baca saja tidak segera ditinjaklanjuti. Sehingga ketika hari berikutnya datang tugas yang baru, kalian merasa keberatan. Monggo, supaya tidak merasa terbebani, setiap ada tugas, langsung dikerjakan. Saya rasa kalau kalian rutin, segera menyikapi tugas yang ada tentu tidak akan merasa berat atau malas. Saya menyadari, selain belajar di rumah kalian juga membantu orang tua. Tetapi mohon dengan sangat, coba kelola waktu dengan baik agar dua kewajiban bisa terselesaikan. Mari kita selalu berdoa semoga kondisi ini segera pulih. Tetap semangat dan jaga kesehatan,” itu wejangan panjang lebar yang saya sampaikan kepada siswa  agar mereka bisa membagi waktu dalam kegiatan belajar di rumah. Untuk siswa yang sudah menyampaikan permasalahan dari awal biasanya akan kami maklumi.

“Iya, Bu….,  Baik, Bu…, Nggih, Bu…, Ya, Bu, maaf, Bu…,” itu antara lain jawaban yang ditulis peserta didik untuk merespon wejangan kami. Akan tetapi, permasalah seperti ini sering kali kami hadapi. Perjalanan PJJ secara daring yang sudah berlangsung hampir satu tahun, untuk pelaksanaan di tempat kami sepertinya masih  sama. Pembelajaran secara daring kadang membuat kami agak kurang enak hati terutama ketika melihat respon yang diberikan oleh siswa dalam menyikapi tugas yang kami berikan. Banyak alasan klasik yang muncul. Masih ada siswa yang beranggapan bahwa ketika tidak masuk untuk tatap muka merupakan hari libur. Pengumpulan tugas selalu molor. Bahkan ada juga yang ketika pembelajaran tatap mula tidak masuk sekolah karena takut ditagih tugas oleh guru.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring memunculkan banyak kendala. Kendala-kendala ini bisa karena kondisi geografis, siswa, orang tua, atau bahkan juga dari guru. Kita  sebagai guru memang khusus disiapkan untuk pembelajaran tatap muka (PTM). Kita berharap, mudah-mudahan pendemik ini akan segera berakhir, sehingga proses pembelajaran akan kembali ke model semula.

 

Bagikan :